July 17, 2018

Sejarah tentang MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa)



Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE)
Uni Eropa (European Union)

1. Terbentuknya MEE
Sejak berakhirnya Perang Dunia II, Eropa mengalami kemiskinan dan perpecahan. Usaha untuk mempersatukan Eropa sudah dilakukan. Namun, keberhasilannya bergantung pada dua negara besar, yaitu Prancis dan Jerman Barat. Pada tahun 1950 Menteri Luar Negeri Prancis, Maurice Schuman berkeinginan menyatukan produksi baja dan batu bara Prancis dan Jerman dalam wadah kerja sama yang terbuka untuk negara-negara Eropa lainnya, sekaligus mengurangi kemungkinan terjadinya perang. Keinginan itu terwujud dengan ditandatanganinya perjanjian pendirian Pasaran Bersama Batu Bara dan Baja Eropa atau European Coal and Steel Community (ECSC) oleh enam negara, yaitu Prancis, Jerman Barat (Republik Federal Jerman-RFJ), Belanda, Belgia, Luksemburg, dan Italia. Keenam negara tersebut selanjutnya disebut The Six State.

Keberhasilan ECSC mendorong negara-negara The Six State membentuk pasar bersama yang mencakup sektor ekonomi. Hasil pertemuan di Messina, pada tanggal 1 Juni 1955 menunjuk Paul Henry Spaak (Menlu Belgia) sebagai ketua komite yang harus menyusun laporan tentang kemungkinan kerja sama ke semua bidang ekonomi. Laporan Komite Spaak berisi dua rancangan yang lebih mengintegrasikan Eropa, yaitu:

1. membentuk European Economic Community (EEC) atau Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE);
2. membentuk European Atomic Energy Community (Euratom) atau Badan Tenaga Atom Eropa.

Rancangan Spaak itu disetujui pada tanggal 25 Maret 1957 di Roma dan kedua perjanjian itu mulai berlaku tanggal 1 Januari 1958. Dengan demikian, terdapat tiga organisasi di Eropa, yaitu ECSC, EEC (MEE), dan Euratom (EAEC). Pada konferensi di Brussel tanggal 22 Januari 1972, Inggris, Irlandia, dan Denmark bergabung dalam MEE. Pada tahun 1981 Yunani masuk menjadi anggota MEE yang kemudian disusul Spanyol dan Portugal. Dengan demikian keanggotaan MEE sebanyak 12 negara.

MEE merupakan organisasi yang terpenting dari ketiga organisasi tersebut. Bukan saja karena meliputi sektor ekonomi, melainkan juga karena pelaksanaannya memerlukan pengaturan bersama yang meliputi industri, keuangan, dan perekonomian.


2. Tujuan Pembentukan Organisasi MEE

MEE menegaskan tujuannya, antara lain:

1. integrasi Eropa dengan cara menjalin kerja sama ekonomi, memperbaiki taraf hidup, dan memperluas lapangan kerja;
2. memajukan perdagangan dan menjamin adanya persaingan bebas serta keseimbangan perdagangan antarnegara anggota;
3. menghapuskan semua rintangan yang menghambat lajunya perdagangan internasional;
4. meluaskan hubungan dengan negara-negara selain anggota MEE. Untuk mewujudkan tujuannya, MEE membentuk Pasar Bersama Eropa (Comman Market ), keseragaman tarif, dan kebebasan bergerak dalam hal buruh, barang, serta modal.


3. Struktur Organisasi MEE

Organisasi MEE memiliki struktur organisasi sebagai berikut.
a) Majelis Umum (General Assembly) atau Dewan Eropa (European Parliament)
Keanggotaan Majelis Umum MEE berjumlah 142 orang yang dipilih oleh parlemen negara anggota. Tugasnya memberikan nasihat dan mengajukan usul kepada Dewan Menteri dan kepada Komisi tentang langkah-langkah kebijakan yang diambil, serta mengawasi pekerjaan Badan Pengurus Harian atau Komisi MEE serta meminta pertanggungjawabannya.
b) Dewan Menteri (The Council)
Dewan Menteri MEE mempunyai kekuasaan tertinggi untuk merencanakan dan memberikan keputusan kebijakan yang diambil. Keanggotaannya terdiri atas Menteri Luar Negeri negara-negara anggota. Tugasnya menjamin terlaksananya kerja sama ekonomi negara anggota dan mempunyai kekuasaan membuat suatu peraturan organisasi. Ketuanya dipilih secara bergilir menurut abjad negara anggota dan memegang jabatan selama enam tahun.
c) Badan Pengurus Harian atau Komisi (Commision)
Keanggotaan Badan Pengurus Harian atau Komisi MEE terdiri atas sembilan anggota yang dipilih berdasarkan kemampuannya secara umum dengan masa jabatan empat tahun. Komisi berperan sebagai pemegang kekuasaan eksekutif dan badan pelaksana MEE. Di samping itu komisi juga mengamati dan mengawasi keputusan MEE, memperhatikan saran-saran baru, serta memberikan usul dan kritik kepada sidang MEE dalam segala bidang. Hasil kerjanya dilaporkan setiap tahun kepada Majelis Umum (General Assembly).
d) Mahkamah Peradilan (The Court of Justice)
Keanggotaan Mahkamah Peradilan MEE sebanyak tujuh orang dengan masa jabatan enam tahun yang dipilih atas kesepakatan bersama negara anggota. Fungsinya merupakan peradilan administrasi MEE, peradilan pidana terhadap keanggotaan komisi, dan peradilan antarnegara anggota untuk menyelesaikan perselisihan yang timbul di antara para negara anggota. Peradilan konstitusi berfungsi untuk menyelesaikan konflik perjanjian internasional. Untuk melancarkan aktivitasnya, Masyarakat Ekonomi Eropa membentuk beberapa organisasi baru, yaitu:
a) Parlemen Eropa (European Parliament);
b) Sistem Moneter Eropa (European Monetary System);
c) Unit Uang Eropa (European Currency Unit);
d) Pasar Tunggal (Single Market).


Menurut perhitungan suara referendum Prancis yang diselenggarakan pada tanggal 20 September 1992 tentang perjanjian Maastrich, menunjukkan bahwa 50,95% pemilih menyatakan setuju. Untuk mendirikan organisasi-organisasi tersebut pada tanggal 7 Februari 1992 di Maastrich, Belanda diadakan pertemuan anggota MEE. Hasil pertemuan itu dituangkan dalam sebuah naskah perjanjian yang disebut The Treaty on European Union (TEU) atau Perjanjian Penyatuan Eropa yang telah ditandatangani oleh Kepala Negara/Pemerintah di Maastrich, Belanda. Referendum dimaksudkan untuk mendapatkan persetujuan dari 12 negara anggota Masyarakat Eropa, yakni Inggris, Jerman, Prancis, Belanda, Belgia, Luksemburg, Italia, Irlandia, Denmark, Portugal, Spanyol, dan Yunani.


4. Perubahan Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) menjadi Uni Eropa (UE) Melalui perjanjian

Maastrich, ke–12 negara anggota Masyarakat Eropa dipersatukan dalam mekanisme Kesatuan Eropa, dengan pelaksanaan secara bertahap. The Treaty on European Union mulai dilaksanakan pada tanggal 1 Januari 1993, setelah diratifikasi oleh semua parlemen anggota masyarakat Eropa. Mulai tahun 1999, Masyarakat Eropa hanya mengenal satu mata uang yang disebut European Currency Unit (ECU) atau (European Union – EU). Beberapa bentuk perjanjian yang pernah dilakukan MEE harus mengalami beberapa kali amandemen. Hal itu berkaitan dengan bertambahnya anggota. Kenggotaan Uni Eropa terbuka bagi semua negara dengan syarat:

1. negara tersebut berada di kawasan Benua Eropa;
2. negara tersebut harus menerapkan prinsip-prinsip demokrasi, penegakan hukum, menghormati hak asasi manusia (HAM), dan bersedia menjalankan segala peraturan perundang-undangan Eropa.

Pada tahun 2004 keanggotaan Uni Eropa berjumlah dua puluh lima negara. Sepuluh negara yang menjadi anggota baru Uni Eropa sebelumnya berada di wilayah Eropa Timur. Negara anggota Uni Eropa yang baru itu adalah Republik Ceko, Estonia, Hongaria, Latvia, Lithuania, Malta, Polandia, Siprus, Republik Slovakia, dan Slovenia. Pada tahun 2007, Bulgaria dan Rumania juga diharapkan bergabung dengan Uni Eropa. Sementara itu, permintaan Turki untuk menjadi anggota Uni Eropa masih ditangguhkan. Hal itu disebabkan Turki belum melaksanakan perubahan (reformasi) politik dan ekonomi di dalam negerinya.










Contoh teks sejarah bahasa indonesia



Makam Mistis Trengguling

Desa Saren merupakan salah satu desa yang terkenal di Kecamatan Kalijambe. Terdapat salah satu tempat yang dikatakan cukup tua dan terkenal mistis, yaitu sebuah pemakaman bernama Makam Trenggulin. Terletak di Desa Saren RT 1O Kalijambe, Sragen.
            Asal-usul tentang penamaan Makam Trenggulin tidak banyak masyarakat yang tahu. Bahkan orang tertua di desa yaitu Bapak Kholil yang berumur 90 tahun juga tidak mengetahuinya. Diperkirakan makam tersebut telah berdiri sejak zaman Kolonial Belanda di Indonesia.
            Makam yang sudah tua tersebut terlihat menyeramkan. Bahkan, masyarakat desa pada awalnya menganggap Makam Trenggulin menyeramkan dan hanya beberapa orang saja yang berani melewati sekitarnya, karena zaman dahulu tak terdapat bangunan atau pemukiman disekelilingnya.
            Terdapat kejadian yang aneh dan misterius yang pernah terjadi di makam tersebut walaupun masih diragukan kebenarannya. Dahulu, terdapat cerita bahwa terdapat seorang ibu pedagang hendak pergi ke pasar pada pagi hari sebelum subuh yang melewati depan makam tersebut. Tiba-tiba ibu itu melihat sesosok wanita berdiri di depan pintu makam. Lantas ibu pedagang menghampirinya. Kemudian berpalinglah wanita tersebut , seketika ibu pedagang menjerit dan lari ketakutan menuju ke arah pasar setelah melihat wajah sesosok wanita itu.
            Keadaan Makam Trenggulin sekarang ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Telah banyak bangunan-bangunan disekitarnya seperti rumah pemukiman warga, pabrik tekstil, dan perumahan nasional. Bentuk makam yang awalnya terlihat menyeramkan sudah dibuat sedemikian rupa sebagaimana mestinya. Masyarakat sekitar, khususnya Desa Saren tak lagi menganggap bahwa Makam Trengguling menyeramkan dan memiliki hal-hal yang mistis.

January 22, 2018

Tips and Trik Lanjut S2


Tanyakan 3 Hal Ini ke Dirimu Sebelum Lanjut S2

By Vicario Reinaldo

Beberapa waktu lalu aku mengikuti sebuah acara yang membahas tentang pendidikan pascasarjana di Amerika Serikat. Seperti kebanyakan pengunjung lainnya, ekspektasiku dari mengikuti acara tersebut adalah mengetahui seperti apa rasanya belajar di US, cara membuat recommendation letter, tips-tips membuat personal statement, dan lain-lain. Beberapa pembicara dengan bersemangat menceritakan pengalaman mereka dan memberikan tips tentang cara mendapatkan beasiswa di US.Kemudian, sampailah acara pada sesi seorang pembicara yang tiba-tiba membawakan topik yang sangat berbeda dengan apa yang dibawakan oleh pembicara sebelumnya. Alih-alih meyakinkan kami bahwa belajar di US itu baik atau memberikan tips-tips untuk mendapatkan beasiswa, ia malah memberikan saran yang begitu mengena.

“Tidak ada formula khusus untuk sukses. Seseorang bisa sukses dengan berbagai cara, tidak semata-mata harus mengambil kuliah pascasarjana. Oleh karena itu, bangun kesadaran dirimu terlebih dahulu sebelum menentukan langkah yang akan kamu ambil.”

Jeng jeng jeng. Bagiku, ini merupakan saran yang menohok karena memang benar adanya. Di dalam konteks pendidikan pascasarjana, terkadang kita memulai dengan menentukan universitas yang kita mau terlebih dahulu, bukan dari menentukan apa yang kita ingin cari atau butuhkan. Risiko terbesar dari memulai di ujung yang salah adalah besarnya kemungkinan kita memilih langkah yang salah juga.Oleh karena itu, aku sangat menyukai langkah yang direkomendasikan oleh Simon Sinek, pembicara TED Talk favoritku. Ia memperkenalkan suatu konsep sangat sederhana yang disebut dengan golden circle.

Konsep ini menyarankan bahwa kita harusnya memulai pengambilan keputusan dari why. Dalam konteks memilih pendidikan pascasarjana, kita disarankan untuk memulai dengan “Mengapa kita membutuhkan pendidikan pasca sarjana dengan jurusan X di kampus Y?” bukan dengan “Apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan beasiswa pendidikan pascasarjana dengan jurusan X di kampus Y?”Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara kita menjawab the big question “Mengapa kita membutuhkan pendidikan pasca sarjana dengan jurusan X di kampus Y?”. Aku menyusun beberapa pertanyaan yang menurutku akan membantu kita dalam menemukan jawaban dari pertanyaan besar tersebut:

1. Apa aspirasi karirku untuk 5 tahun ke depan dan apakah aku harus menempuh pendidikan pasca sarjana untuk mencapainya?

Pertanyaan ini merupakan pertanyaan kritis karena dua alasan. Pertama, bisa jadi untuk mencapai aspirasi karirmu, kamu ternyata tidak perlu menempuh pendidikan pascasarjana. Jika memang itu kenyataannya, tidak perlu repot-repot memikirkan kampus dan jurusan atau mempersiapkan recommendation letter atau belajar GMAT ☺

Kedua, pertanyaan ini juga membantu kita untuk berpikir, karir seperti apa yang kita butuhkan dan apakah karir tersebut realistis. Alasan kedua ini terinspirasi dari seorang teman yang sempat berkeluh-kesah kepadaku perihal karir. Ia bercerita bahwa ia memilih jurusan X di kampus Y karena ingin bekerja sebagai A.Namun, ternyata karir sebagai A tidaklah memungkinkan baginya, dan ia baru mengetahuinya di penghujung masa kuliah pasca sarjananya. Tentunya akan lebih baik jika hal-hal seperti ini dapat dihindari.

2. Bila pendidikan pasca sarjana merupakan langkah yang harus aku ambil, jurusan apakah yang sebaiknya kupilih?

Pertama kali aku melihat daftar jurusan pascasarjana, aku sangat terkejut dengan betapa spesifiknya jurusan-jurusan di luar negeri. Sebagai contoh, jika kita ingin berkarir di pemerintahan, kita harus menentukan apakah jurusan Public Policy, Public Administration, ataukah Political Science yang paling cocok untuk mendukung karir kita. Jawabannya akan sangat berbeda dari satu orang dengan yang lainnya, karena kita pun perlu menentukan karir di bidang pemerintahan seperti apa yang kita inginkan.

3. Kampus mana yang memiliki jurusan yang paling cocok dengan aspirasi karirku?

Ini juga merupakan pertanyaan yang kadang sangat menjebak karena kita sering termakan oleh reputasi dari suatu kampus.Contoh yang paling mudah adalah banyak orang berbondong-bondong ingin berkuliah di Harvard, Stanford, Wharton, dan lain-lain di Amerika Serikat. Padahal jika aspirasinya adalah menjadi pengusaha di bidang ekspor-impor, mungkin berkuliah di China, atau bahkan di Indonesia, merupakan pilihan yang lebih relevan.Saat ini godaan untuk cepat-cepat mengambil S2 sangatlah besar, mulai dari semakin banyaknya peluang beasiswa, keinginan untuk cepat menikah, keinginan untuk meraih karir gemilang dengan cepat, dan sebagainya.

Bagiku pribadi, pendidikan pascasarjana itu ibarat memilih satu persimpangan jalan dan menekuninya sampai ujung. Memang betul kita masih bisa bekerja di bidang di luar pendidikan pascasarjana kita, namun alangkah baiknya jika bidang yang kita pilih sejalan dengan karir kita kelak. Godaan memang besar, namun ada baiknya kita tetap bijaksana dalam membuat keputusan sepenting ini.

Jadi, sebelum lanjut S2, jangan lupa tanyakan tiga hal tersebut kepada dirimu sendiri, ya!


January 18, 2018

Contoh Makalah Usaha Franchise (Waralaba)

USAHA FRANCHISE (WARALABA)

BAB I
PENDAHULUAN

I.          Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan zaman dan begitu pesatnya sektor perekonomian yang semakin meningkat, dinamis dengan penuh persaingan serta tidak mengenal batas-batas wilayah. Berbagai bisnis yang dijalankan dengan mudahnya untuk dilaksanakan. Oleh karena itu bisnis di zaman sekarang ini diperlukannya hukum untuk menaungi dan melindungi dengan tujuan untuk mewujudkan rasa keadilan sosial dan adanya kepastian hukum, bukan hanya sekedar mencari keuntungan (profit oriented) tetapi ada pertanggungjawaban terhadap dampak yang ditimbulkan dari operasional bisnis secara menyeluruh tersebut.
Untuk  mengantisipasi  hal-hal  yang  tidak  diinginkan,  para  bisnisman  dan orang-orang yang ingin terjun langsung di dunia bisnis hendaknya terlebih dahulu mengetahui  dan memahami hukum bisnis secara detail agar bisnis yang ditekuni berjalan dengan baik danmemberikan manfaat bagi dirinya dan menyejahterakan masyarakat pada umumnya.
Di Indonesia seperti kebanyakan negara berkembang yang lain, berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kesejahteraan warganya. Untuk itu pengembangan pada sector ekonomi menjadi tumpuan utama agar taraf hidup rakyat menjadi lebih mapan. Pembangunan ekonomi merupakan pengolahan kekuatan ekonomi  riil dimana dapat  dilakukan  melalui  penanaman  modal,  penggunaan teknologi dan kemampuan berorganisasi atau manajemen.
Syahrin Naihasy mengatakan lebih lanjut bahwa sejak perekonomian dunia telah mengalami perubahan yang sangat dahsyat dan kini dunia, termasuk Indonesia, menyaksikan fase ekonomi global yang bergerak cepat dan telah membuka tabir lintas bata santar Negara. Dapat dikatakan bahwa dunia usaha adalah sebagai tumpuan utama yang dipergunakan sebagai pilar dan dilaksanakan dengan berbagai macam cara yang sekiranya dapat memupuk perkembangannya dengan lebih optimal dan berdaya guna.

II.          Rumusan Masalah
Untuk mengetahui apa itu Franchising beserta pemahamannya. Mahasiswa dituntut untuk mengerti apa saja yang berhubungan dengan Franchising.

III.     Tujuan Penulisan
Untuk mempermudah tercapainya arah serta sasaran yang diharapkan bagi pembaca, maka penyusun merumuskan beberapa tujuan yang hendak dicapai. Adapun rumusan tujuan-tujuan tersebut adalah untuk mengetahui :
1.        Sejarah Franchise
2.        Pengertian Franchise
3.        Jenis dan Bentuk Franchise
4.        Keunggulan dan Kelemahan Sistem Franchise
5.        Perusahaan Franchise di Indonesia

IV.          Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini bermanfaat untuk memberi suatu pembelajaran kepada pembaca tentang Franchise.  Banyak hal yang harus di ketahui  jika ingin membuat satu Franchise dengan membaca tulisan ini setidaknya dapat menambah pengetahuan yang berhubungan dengan Franchise.

BAB II
PEMBAHASAN

I.          Sejarah Waralaba
Sejarah franchise di mulai di Amerika Serikat oleh perusahaan mesin jahit singer sekitar tahun1850-an. Pada saat itu,Singer membangun jaringan distribusi hampir di seluruh daratan Amerika untuk menjual produknya. Disamping menjual mesin jahit, para distributor tersebut juga memberikan pelayanan purna jual dan suku cadang. Jadi para distributor tidak semata menjual mesinjahit, akan tetapi juga memberikan layanan perbaikan dan perawatan kepada konsumen. Walaupun tidak terlampau berhasil, Singer telah menebarkan benih untuk franchising di masa yang akan datang dan dapat diterima secara universal. Pola ini kemudian diikuti oleh industry mobil, industry minyak dengan pompa bensinnya serta industri minuman ringan. Mereka ini adalah para produsen yang tidak mempunyai jalur distribusi untuk produk-produk mereka, sehingga memanfaatkan system franchise ini di akhir-akhir abad ke-18 dan diawal abad ke 19.
Sesudah  perang  dunia  ke  2,  usaha  eceran  mengadakan  perubahan  dari orientasi produk ke orientasi pelayanan. Disebabkan kelas menengah mulai sangat mobile dan mengadakan relokasi dalam jumlah besar ke daerah-daerah pinggiran kota, maka banyak rumah makan/restoran atau drivein mengkhususkan dalam makanan siap saji dan makanan yang bisa segera di makan di perjalanan. Pada awal nya istilah franchise tidak dikenal dalam kepustakaan Hukum Indonesia,hal ini dapatdimaklumi karena memang lembaga franchise ini sejak awal tidak terdapat dalam budaya atau trades ibisnis masyarakat Indonesia.Namun   karena pengaruh   globalisasi   yang   melanda   di   berbagai   bidang,   maka   franchise   ini kemudian.   masuk   ke   dalam   tatanan   budaya  dan   tatanan   hukum   masyarakat Indonesia.
Waralaba mulai ramai dikenal diIndonesia sekitar tahun 1970-an dengan mulai masuknya franchise luar negeri, seperti KFC, Swensen, Shekey Pisa, Burger King dan 7Eleven. Walaupun system franchise ini sebetulnya sudah ada di Indonesia seperti yang diterapkan oleh Bata dan menyerupai SPBU.
Pada awal tahun 1990 – an International Labour Organization (ILO) pernah menyarankan Pemerintah Indonesia untuk menjalankan sistem franchiseguna memperluas lapangan kerja sekaligus merekrut tenaga-tenaga ahli franchise untuk melakukan survei, wawancara, sebelum memberikan rekomendasi. Hasil kerja para ahli franchise tersebut menghasilkan “Franchise Resource Center” dimana tujuan lembagatersebutadalahmengubahberbagai macam usaha menjadi franchise serta mensosialisasikan system franchise ke masyarakat Indonesia.
Istilah   franchise   ini   selanjutnya   menjadi   istilah   yang   akrab   dengan masyarakat, khususnya masyarakat bisnis Indonesia dan menarik perhatian banyak pihak untukmendalaminya kemudian istilah franchise dicoba di Indonesiakan dengan istilah ‘waralaba’ yang diperkenalkan pertama kali oleh Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM) sebagai padanan istilah franchise. Waralaba berasal dari kata wara (lebih atau istimewa) dan laba (untung), maka waralaba berarti usaha yangmemberikan labalebih / istimewa.


  II.          Pengertian Waralaba (Franchise)
Waralaba jika dalam bahasa Inggris yaitu bisa disebut dengan franchising & dalam bahasa Perancis bisa disebut dengan franchise yang artinya ialah hak atau kebebasan, merupakan suatu hak-hak menjual suatu produk, jasa, atau layanan. Jika di Indonesia sendiri waralaba ialah suatu perikatan yang dimana salah satu pihak diberi hak untuk menggunakan atau memanfaatkan suatu karakter dari sebuah usaha milik pihak lain dengan membayar suatu imbalan kepada pihak yang menjadi pemberi hak. Intinya waralaba ialah suatu penjualan sebuah paket usaha komprehensif dan siap pakai yang didalamnya mencakup sebuah merek dagang, material hingga pengolaan manajemennya.
Menurut Asosiasi Franchise Indonesia yang dimaksud dengan waralaba yaitu suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, yang dimana sang pemilik merek memberikan suatu haknya kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan sebuah bisnis dengan nama, merek, sistem, prosedur, manajemen dan cara-cara yang sudah ditentukan sebelumnya dalam jangka waktu dan meliputi area tertentu.
Franchise Indonesia merupakan wadah bagi para pengusaha franchise. franchise berarti kerja sama dalam bidang usaha dengan bagi hasil sesuai dengan kesepakatan, hak kelola dan hak pemasaran. Adapun para pelaku dalam bisnis ini disebut pewaralaba (franchisor) orang yang memberi waralaba, orang yg memiliki waralaba, dan terwaralaba (Franchisee) sudah menerima waralaba atau diberi waralaba.

 III.       Jenis dan Bentuk Franchise
Waralaba dibagi menjadi dua:
1.    Waralaba luar negeri/asing yaitu waralaba yang berasal dari luar negeri, jenis waralaba yang satu ini cenderung lebih banyak disukai karena sebuah sistem dan mekanismenya lebih jelas, merek sudah diterima diberbagai dunia, dan dirasakan lebih bergengsi.
Contohnya: pada McDonald’s, (KFC) Kentucky Fried Chicken, Bread Talk, Starbucks, Pizza Hut, dan lain sebagainya.
2.    Waralaba dalam negeri yaitu waralaba yang berasal dari dalam negeri, jenis waralaba yang satu ini juga menjadi salah satu pilihan dalam investasi untuk orang-orang yang ingin cepat menjadi pengusaha tetapi tidak mempunyai pengetahuan cukup piranti awal dan kelanjutan usaha ini yang disediakan oleh pemilik waralaba. 
Contoh waralaba lokal yaitu : Primagama, Alfamart, Martha Tilaar, Roti Buana, Edward Forrer, Bogasari Baking Center dan lain sebagainya.

Menurut Mohammad Su’ud ( 1994:4445) bahwa dalam praktek franchise terdiri dari empat bentuk:
1.    Product Franchise : Suatu bentuk franchise dimana penerima franchise hanya bertindak mendistribusikan produk dari petnernya dengan pembatasan areal.
2.    Processing or Manufacturing Frinchise : Jenis franchise ini memberikan hak pada suatu badan usaha untuk membuat suatu produk dan menjualnya pada masyarakat, dengan menggunakan merek dagang dan merek franchisor. Jenis franchise ini seringkali ditemukan dalam industri makanan dan minuman. Suatu bentuk franchise dimana PT Ramako Gerbangmas membeli dari master franchise yang mengeloia Mc Donald‘s di Indonesia yang hanya memberi know how pada PT Ramako Gerbangmas tersebut untuk menjalankan waralaba Mc Donald’s.
3.    Bussiness Format atau System Franchise : Franchisor memiliki cara yang unik dalam menyajikan produk dalam satu paket, seperti yang dilakukan oleh Mc Donald’s dengan membuat variasi produknya dalam bentuk paket.
4.    Group Trading Franchise : Bentuk franchise yang menunjuk pada pemberian hak mengelola toko-toko grosir maupun pengecer yang dilakukan toko serba ada.

Menurut International Franchise Association (IFA) berkedudukan di Washington DC, merupakan organisasi Franchise International yang beranggotakan negara-negara di dunia, ada empat jenis franchise yang mendasar yang biasa digunakan di Amerika Serikat, yaitu:
1.    Product Franchise : Produsen menggunakan produk franchise untuk mengatur bagaimana cara pedagang eceran menjual produk yang dihasilkan oleh produsen. Produsen memberikan hak kepada pemilik toko untuk mendistribusikan barang-barang milik pabrik dan mengijinkan pemilik toko untuk menggunakan nama dan merek dagang pabrik. Pemilik toko harus membayar biaya atau membeli persediaan minimum sebagai timbal balik dari hak-hak ini. Contohnya, toko ban yang menjual produk dari franchisor, menggunakan nama dagang, serta metode pemasaran yang ditetapkan oleh franchisor.
2.    Manufacturing Franchises : Jenis franchise ini memberikan hak pada suatu badan usaha untuk membuat suatu produk dan menjualnya pada masyarakat, dengan menggunakan merek dagang dan merek franchisor. Jenis franchise ini seringkali ditemukan dalam industri makanan dan minuman.
3.    Business Oportunity Ventures : Bentuk ini secara khusus mengharuskan pemilik bisnis untuk membeli dan mendistribusikan produk-produk dari suatu perusahaan tertentu. Perusahaan harus menyediakan pelanggan atau rekening bagi pemilik bisnis, dan sebagai timbal baliknya pemilik bisnis harus membayarkan suatu biaya atau prestasi sebagai kompensasinya. Contohnya, pengusahaan mesin-mesin penjualan otomatis atau distributorship.
4.    Business Format Franchising : Ini merupakan bentuk franchising yang paling populer di dalam praktek. Melalui pendekatan ini, perusahaan menyediakan suatu metode yang telah terbukti untuk mengoperasikan bisnis bagi pemilik bisnis dengan menggunakan nama dan merek dagang dari perusahaan. Umumnya perusahaan menyediakan sejumlah bantuan tertentu bagi pemilik bisnis membayar sejumlah biaya atau royalti. Kadang-kadang, perusahaan juga mengaharuskan pemilik bisnis untuk membeli persediaan dari perusahaan.



IV.          Keunggulan dan Kelemahan Sistem Franchise
Franchising juga merupakan strategi perluasan dari suatu usaha yang telah berhasil dan ingin bermitra dengan pihak ketiga yang serasi, yang ingin berusaha, dan memiliki usaha sendiri. Sistem franchise ini mempunyai keunggulan-keunggulan dan juga kerugian-kerugian.

Keunggulannya adalah:
“As practiced in retailing, franchising offers franchisees the advantage of starting up a new business quickly based on a proven trademark and formula of doing business, as opposed to having to build a new business and brand from scratch.”

“Seperti dalam praktek retailing, franchising menawarkan keuntungan untuk memulai suatu bisnis baru dengan cepat berdasar pada suatu merek dagang yang telah terbukti bisnisnya, tidak sama seperti dengan membangun suatu merek dan bisnis baru dari awal mula.” Selain itu menurut Rachmadi keunggulan lainnya dari sistem franchise bagi franchisee, antara lain:
1.    Pihak franchisor memiliki akses pada permodalan dan berbagi biaya dengan franchisee dengan resiko yang relatif lebih rendah.
2.    Pihak franchisee mendapat kesempatan untuk memasuki sebuah bisnis dengan cara cepat dan biaya lebih rendah dengan produk atau jasa yang telah teruji dan terbukti kredibilitas mereknya.
3.    Lebih dari itu, franchisee secara berkala menerima bantuan manajerial dalam hal pemilihan lokasi bisnis, desain fasilitas, prosedur operasi, pembelian, dan pemasaran. (Rachmadi, 2007, p. 7-8)

Sedangkan kerugian sistem franchise bagi franchisee adalah:
1.    Sistem franchise tidak memberikan kebebasan penuh kepada franchisee karena franchisee terikat perjanjian dan harus mengikuti sistem dan metode yang telah dibuat oleh franchisor.
2.    Sistem franchise bukan jaminan akan keberhasilan, menggunakan merek terkenal belum tentu akan sukses bila tidak diimbangi dengan kecermatan dan kehati-hatian franchisee dalam memilih usaha dan mempunyai komitmen dan harus bekerja keras serta tekun.
3.    Franchisee harus bisa bekerja sama dan berkomunikasi dengan baik dalam hubungannya dengan franchisor. (Sukandar, 2004, p. 67)
4.    Tidak semua janji franchisor diterima oleh franchisee.
5.    Masih adanya ketidakamanan dalam suatu franchise, karena franchisor dapat memutuskan atau tidak memperbaharui perjanjian. (Rachmadi, 2007,p. 9)

V.          Perusahaan Franchise di Indonesia
Berikut ini adalah berbagai contoh bisnis franchise yang ada dan masih berjaya di Indonesia:
  1. Waralaba dibidang makanan
    KFC, Mc Donald, CFC, Hip Hop, Papa Rons Pizza, Es Teller 77, Bakmi GM, Pizza Hut, Bakso Lapangan Tembak Senayan.
  2. Waralaba berbentuk retail mini outlet
    Alfamart, Indomaret, Yomart, 7eleven, Lawson
  3. Waralaba di bidang pendidikan
    (Science Buddies, ITutorNet,Primagama, Sinotif) , lebih menarik lagi terdapat Sekolah robot ( Robota Robotics School ),taman bermain (SuperKids) dan Pendidikan Bahasa Inggris (EF/English First, ILP, Direct English).
Dengan semakin tingginya perkembangan bisnis waralaba diIndonesia diharapkan dapat membantu pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan pendapat negara melalui pajak yang dibayarkan para pelaku bisnis waralaba di Indonesia.

BAB III
PENUTUP

I.          Kesimpulan
Waralaba (Franchise) merupakan suatu bentuk bisnis kerjasama yang dilakukan oleh dua belah pihak, dimana pihak pertama (franchisor) memberikan hak kepada pihak kedua (franchisee) untuk menjual produk atau jasa dengan memanfaatkan merk dagang yang dimiliki oleh pihak pertama (franchisor) sesuai dengan prosedur atau system yang diberikan.
Waralaba merupakan salah satu bentuk perikatan/atau perjanjian dimana kedua belah pihak harus memenuhi hak dan kewajibannya masing-masing. Perjanjian  waralaba  adalah  perjanjian yang tidak bertentangan dengan undang-undang, agama, ketertiban umum, dan kesusilaan. Kemudian banyak orang yang mengatakan bahwa waralaba itu sama dengan lisensi, padahal pada kenyataannya kedua istilah tersebut berbeda baik dari segi pengertian maupun dari segi pengaplikasiannya. Lisensi merupakan pemberian hak merk/hak cipta kepada pihak tertentu dan tidak mempunyai tanggung jawab untuk melakukan bimbingan ataupun pelatihan kepada penerima lisensi. Sedangkan di dalam bisnis waralaba, pihak franchisor mempunyai kewajiban untuk memberikan pelatihan dan bimbingan kepada pihak franchisee.
II.          Kritik dan Saran
Kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Demikianlah makalah singkat tentang Usaha Franchise/Waralaba yang dapat kami sampaikan, apabila terdapat banyak kesalahan atau kekurangan di dalam penulisan makalah ini, sudi kiranya kami mohon ma’af yang sebesar-besarnya. Dan kami sangat mengharapkan kritik dan sarannya dari pembaca yang budiman sekalian yang bersifat membangun bagi kami demi kesempurnaan makalah ini. Dan apabila terdapat kebenaran dan kelebihan itu semata-mata datangnya hanya dari Allah SWT.

January 16, 2018

Contoh PKM (Pekan Kreativitas Mahasiswa) Kewirausahaan - Ketela


BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
Kota Semarang merupakan salah satu kota yang menjadi destinasi favorit bagi para pendatang baru baik itu yang ingin menetap dengan mencari pekerjaan di Semarang, maupun bagi mahasiswa dan mahasiswi yang hendak mencari ilmu dengan berkuliah di Kota Semarang.
Kota Semarang yang merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah, banyak memiliki kuliner khas. Kuliner khas Semarang diantaranya, Bandeng Presto, Wingko Babat, Lumpia, dll. Makanan-makanan khas Semarang tersebut banyak kita jumpai bila hendak membeli oleh-oleh khas Semarang dengan harga yang bervariasi tergantung outlet tempat menjual oleh-oleh khas Semarang tersebut.
Selain makanan-makanan tersebut, terdapat juga camilan yang enak untuk di konsumsi saat bersantai, camilan itu adalah Telpursuju. Telpursuju merupakan produk inovasi dari kami yang dikemas dengan sajian menarik sehingga dapat menarik minat masyarakat Semarang yang banyak didominasi pemuda dan mahasiswa, mengingat begitu banyaknya universitas di Kota Semarang.
Telporsuju merupakan camilan yang terbuat dari ketela dicampur dengan susu dan ditambah dengan keju secukupnya agar rasanya lebih menarik dan manis.Telpursuju itu harganya murah dan rasanya lezat. Telpursuju kami buat dengan harapan dapat melestarikan kuliner tradisional di era ini yang telah banyak didominasi makanan barat.
Pada kesempatan kali ini, kelompok kami akan menginovasikan Telporsuju sebagai salah satu cemilan favorit yang bisa di konsumsi oleh berbagai kalangan baik itu tua maupun muda. Adapun nama produk yang kami usung adalah “Tela campur Susu dan Keju”.
Kami memberi nama Telpursuju karena kami mengibaratkan cita rasa Telporsuju kami itu yang rasanya beragam dari umbi umbian . Kata Telpursuju sendiri merupakan singkatan dari ketela campur susu dan keju. Dalam kesempatan kali ini, kami akan menginovasikan ketela diberi toping susu dan keju.
Sasaran utama pemasaran “Tela campur Susu dan Keju” ini adalah untuk semua kalangan masyarakat, karena kami berharap semua kalangan dapat mengenal camilan khas daerah yang sehat dan harganya bersahabat di kantong masyarakat.
Sedangkan tujuan usaha ini adalah untuk membantu kami belajar berwirausaha dan menarik minat para remaja dari makanan yang sudah hampir terlupakan dikalangan remaja.
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah kami jelaskan di atas, maka rumusan masalah program ini kami tekankan pada :          
1. Bagaimana cara memproduksi“Tela campur Susu dan Keju” agar menjadi camilan favorit yang digemari  para remaja?
2.  Apa tujuan utama dipasarkannya produk “Tela campur Susu dan Keju”?

1.3       Tujuan
Adapun tujuan dibuatnya Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan ini adalah :
1. Menciptakan suatu inovasi baru dalam memasarkan “Tela campur Susu dan Keju” dengan mengemasnya dalam kemasan yang menarik sehingga lebih dikenal oleh masyarakat luas.
2. Memperoleh keuntungan dari usaha penjualan “Tela campur Susu dan Keju”serta membantu kami dalam belajar berwirausaha

1.4       Luaran yang Di Harapkan
Luaran yang kami harapkan dari PKM-K ini adalah berdirinya usaha di bidang kuliner yang memproduksi ketela yang dicampur dengan susu dan keju  yang memiliki keunggulan produk dibandingkan dengan  ketela yang dijual di pasaran. Luaran lainnya dalah menjadikan “Ketela campur Susu dan Keju” sebagai camilan yang menarik dan diminati.

1.5       Kegunaan
            1. Bagi Mahasiswa :
a.       Menumbuhkan semangat untuk belajar berwirausaha di kalangan mahasiswa.
b.      Memperoleh keuntungan dari usaha ini sebagai usaha sampingan.
            2. Bagi Masyarakat :
a.       Membantu masyarakat agar lebih mengenal camilan khas Jawa Tengah.
b.      Membantu masyarakat memperoleh camilan yang sehat dengan harga terjangkau.
3. Bagi Pemerintah :
a.       Membantu pemerintah dalam menjaga kelestarian makanan tradisional Indonesia.

b.      Membantu pemerintah dalam hal penyediaan produk-produk makanan yang sehat dan aman untuk dikonsumsi.
BAB II
GAMBARAN UMUM RENCANA USAHA

2.1       Gambaran Umum Kondisi Lingkungan
Kota Semarang merupakan ibu kota Provinsi Jawa Tengah dan merupakan salah satu kota yang memiliki jumlah penduduk cukup tinggi. Secara geografis Kota Semarang terbagi menjadi Semarang Bawah dan Semarang Atas. Pleburan merupakan salah satu kelurahan yang berada di Kecamatan Semarang Selatan atau Semarang Bawah. Daerah Pleburan cukup memiliki banyak pusat pendidikan diantaranya terdapat Universitas Diponegoro, Universitas Muhammadiyah Semarang, Politeknik Ilmu Pelayaran, dan beberapa sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
Tentunya di daerah Pleburan ini memiliki cukup banyak warga. Penduduk di Pleburan banyak yang berprofesi sebagai mahasiswa/wahasiswi, pengusaha, para pekerja kantor, dll. Daerah Pleburan juga terdapat berbagai macam suku, agama, dan berbagai kalangan dari kalangan bawah, menengah, hingga kalangan atas.
 Di daerah Pleburan juga terdapat banyak warung-warung yang menjual makanan. Pada saat malam hari pula banyak pedagang kaki lima yang menjajakan makanan seperti angkringan, nasi uduk, sate, nasi goreng, dll. Daerah Pleburan yang dekat dengan pusat kota yakni Simpang Lima saat pagi juga banyak terdapat pedagang yang menjajakan makanan atau cemilan. Khususnya saat hari minggu pagi saat car freeday banyak terdapat pedagang kaki lima yang menjajakan makanan, minuman, hingga camilan.
Dari pengamatan yang kami peroleh semasa kami mulai tinggal di Semarang, maka akan sangat menarik jika kami menjajakan camilan yang pertama di inovasikan di sore hingga malam hari. Oleh karena itu, kami bermaksud untuk membuat inovasi baru menjajakan “Tela campur Susu dan Keju” dengan kemasan yang menarik dengan harga yang bersahabat dan dapat melayani pesanan delivery untuk daerah Semarang dan sekitarnya.
2.2       Telpursuju (Tela campur Susu dan Keju)
                                    Ketela di khalayak umum merupakan makanan yang kurang diminati karena bentuknya biasa dan kurang menarik. Oleh karena itu, kita memiliki inovasi pembuatan ketela dengan campuran susu dan keju.
                                    Mungkin semua orang tidak asing lagi dengan susu dan keju karena bahan baku utama ini mudah didapat di pasaran dengan harga cukup terjangkau. Bahan baku utama mudah dibeli di pasar, supermarket, maupun pusat perbelanjaan yang lebih besar. Susu dan keju memiliki kandungan vitamin yang bermanfaat bagi tubuh kita.

2.3       Gambaran Produk
Produk Tela campur Susu dan Keju adalah suatu inovasi produk makanan  dari bahan baku ketela,  yang menjadi makanan tradisional di Indonesia. Ketela yang biasanya terbuat dari campuran tepung lalu di goreng kemudian kita inovasikan menjadi makanan menarik dengan topping susu dan keju  Produk kami ini akan dikemas ke dalam mika dengan isi lima buah telpurjusu didalamnya. Harga untuk satu pack (terdiri dari lima buah) kami hargai dengan harga Rp 5.000,00. Telpursuju sangat cocok dimakan bila masih hangat.

2.4       Tempat Produksi
Produksi akan dipusatkan di rumah yang berada di daerah kartanegara. Yakni di tempat kost anggota kelompok kami yaitu Rozaq Ridho dan Muh.Cahyo tepatnya di Jalan Kertanegara VI no 4. Untuk awal kami memilih tempat tersebut karena disamping kelompok kami adalah mahasiswa yang tinggal di kost, kami menilai bahwa tempat kost anggota kelompok kami yakni Rozaq dan Cahyo memiliki sarana prasarana yang menunjang untuk menjalankan produksi karena memiliki dapur yang memadai.

2.5       Sasaran Pemasaran
Untuk tahap awal kami masih ingin menjajakan hasil usaha kami dengan cara menitipkan hasil produksi kami yakni telpursuju ke warung-warung kelontong atau warung kopi, angkringan, kantin sekolah, koperasi kampus, menjajakannya saat car freeday berlangsung, hingga kami berencana menjajakan sendiri hasil produksi ketela kami ke teman-teman yang ada di kampus agar kami masih bisa terus fokus dalam kuliah kami. Untuk kedepannya, kami berharap bisa menyewa tempat dan membuka suatu outlet yang dapat menjajakan produk kami sehingga bisa lebih dikenali oleh banyak orang.
Sasaran pemasaran kami tunjukkan kepada semua kalangan masyarakat. Bisa anak-anak, remaja, orang tua, lanjut usia, baik yang bekerja maupun tidak bekerja. Karena kami berkeinginan semua lapisan masyarakat dapat merasakan suatu jajanan khas Jawa Tengah yang harganya murah dan enak untuk di konsumsi serta sehat untuk tubuh.
Lalu kami juga berniat untuk mempromosikan produk kami dalam bentuk menyebar brosur, membuat pamflet, atau menyebarkannya melalui  broadcast di social media. Selain itu, kami juga melayani pesanan untuk kegiatan-kegiatan sosial, kegiatan keagamaan, acara formal seperti pernikahan maupun acara tidak formal seperti acara kumpul bersama.  Kami juga berencana melayani jasa delivery order untuk daerah Semarang dan sekitarnya dengan pembelian jumlah tertentu.

2.6  Kapasitas Produksi
Produksi Telpursuju akan ditingkatkan seiring waktu dengan  perincian sebagai berikut:
a.     Bulan II produksi skala kecil, target penjualan sebanyak 300 pc. Pada bulan ini telpursuju dipasarkan di 3 jurusan dan 1 kantin sekolah.
a.     Bulan III  target penjualan sebanyak 450 pc. Penjualan dilakukan dengan membuka outlet di sekitaran jl.Pahlawan
b.    Bulan IV target penjualan sebanyak  750 pc. Penjualan dilakukan dengan menggandeng mitra kerja, kantin, warung makan, dan angkringan.
c.     Bulan V target penjualan sebanyak  1000 pc. Pada bulan ini dilakukan perluasan pemasaran di daerah Semarang  dengan menjual keliling atau sistem delivery order ke kantor-kantor dan perumahan, sekolah-sekolah, mapun tempat umum.

2.7  Perencanaan Pemasaran
Apabila perluasan jaringan penjualan dilakukan, semakin luas juga jaringan pemasarannya. Prinsip ini yang menjadikan sistem  penjualan dari Telpursuju. Jika produksi dalam skala besar dilakukan, menggandeng mitra re-seller  untuk menjual produk ini sangat dibutuhkan. Untuk itu, kami merekrut orang-orang sebagai mitra re-seller  kami. Menurut kami metode ini sangat efektif karena banyak usaha yang menggunakan metode ini dan telah terbukti keefektifannya.

2.8  Analisis Usaha
Target penjualan selama berjalannya program adalah menjual 2.500 pc Telpursuju dengan rincian 300 pc pada bula- II, 450 pc pada bulan-III , 750 pc pada bulan-IV, 1000 pc pada bulan-V.
Biaya produksi yang digunakan adalah 3.000/pc sedangkan harga jualnya adalah 5.000/pc  sehingga keuntungan yang didapat sebesar 2.000/pc.
a.    Penentuan Biaya Produksi
Biaya Produksi     = Total Kisaran Bahan Habis Pakai
                             = 5.891.000
                            
Total biaya produksi selama berjalannya program sebesar 5.891.000, dengan target penjualan  selama program berlangsung sebesar 2500 pack, jadi biaya produksi per-pack sebesar  3.000

b.    Laba
Harga jual perpack                       = 5.000
Biaya produksi perpack               = 3.000
Laba yang didapat per-pack        = 2.000
Target penjualan                           = 2500
Taksiran laba yang diperoleh       =  Laba yg diperoleh perpack  x target penjualan
                                                     = 2.000 x 2500
                                                     = 5.000.000
9  Analisis Kelayakan Usaha
a.         ROI (Return On Investment)           = (keuntungan) / (biaya produksi) x
100%
                                                            = 5.000.000/ 5.891.000 x 100%
                                                            = 0, 85 x 100%
                                                            = 85 %
Usaha  ini  layak  dikembangkan  karena  setiap  pembiayaan  sebesar Rp. 100,00 diperoleh keuntungan sebesar Rp 85,00
b.         Perhitungan Pengembalian Modal 
= (keuntungan) / (modal) x 100%
= (5.000.000/8.706.000) x 100%
= 0,5743 x 100%
= 57,43 % 
Artinya,  setiap  modal  usaha  ini  akan  terlunasi  sebesar  57,43 % .
c.          BEP (Volume Produksi)      =  (biaya produksi) / (harga jual) 
                                                     =   5.891.000 / 6.000
                                                     =  1.178
Jadi,  tingkat  volume  produksi  1.178  Telpursuju,  usaha  ini  berada  pada titik impas. BEP ini terjadi setelah berproduksi selama 2 bulan, 2 minggu, 5 hari. 
BAB III
METODE PELAKSANAAN

3.1 Cara Membuat TELPURSUJU
1.      Alat dan Bahan yang Diperlukan
a.    Alat
1)         Panci
2)         Kompor
3)         Tabung gas dan regulator
4)         Pisau ukuran besar dan kecil
5)         Parutan Keju
6)         Mika
7)         Parutan tradisional
8)         Baskom
9)         Steples
b.    Bahan
Adonan :
1)         Ketela
2)         Tambahkan gula pasir/gula jawa secukupnya
Perasa :
1)        Tambahkan gula jawa supaya terdapat rasa manis dan tambah lebih nikmat
Toping :
1)         Susu Kental Manis Full Cream
2)         Keju parut

3.2 Teknik Pembuatan Telpursuju
1.    Adonan
a.          Adonan Inti
1) Ketela pohon diparut sredek/gobet
2) Siapkan baskom,untuk meletakkan hasil parutan ketela
3)Kemudian ketela dikukus
b.         Perasa
1) Cuci semua adonan perasa yang akan diolah
2) Parut keju dan ketela secara terpisah
2.    Pengukusan
1) Panaskan Ketela setelah diparut, kemudian dikukus ditunggu beberapa menit kurang lebih 10 menit
2) Setelah matang tuangkan ke dalam baskom terlebih dahulu agar tidak panas atau di tuangkan ke mika tetapi mikanya jangan ditutup terlebih dahulu
1.    Toping
1) Masukkan susu kental manis full cream diatas ketela yang sudah ditaburi keju yang diparut

3.3 Tahap-Tahap Pelaksanaan Kegiatan
1.      Kegiatan Tahap I : Pra-Produksi
            Tahap Pra-Produksi meliputi penyiapan tempat produksi, bahan baku, pembelian peralatan, perancangan kemasan dan label dan mengurus perizinan usaha.
            Tahap yang pertama adalah penyiapan tempat produksi. Lokasi produksi yang baik yaitu akses mudah dengan keadaan lingkungan yang higenis. Produksi akan dipusatkan di rumah yang berada di daerah Kertanegara VI No.4 , Pleburan. Tahap selanjutnya adalah penyediaan alat-alat produksi utama yang meliputi kompor, tabung gas, regulator, dan  parutan. Tahap Pra-produksi juga memuat survey pasar dan kontrak kerjasama dengan mitra yang akan di-supplay produk Ketela campur Susu dan Keju.


2.      Kegiatan Tahap II : Penentuan Harga dan Promosi
Tahap penentuan harga dan penentuan besarnya keuntungan  telah dianalisis sehingga terciptalah harga yang sudah dijelaskan pada Bab II. Kegiatan Promosi dilakukan memanfaatkan penggunaan teknologi melalui media internet, yaitu dengan media sosial instagram, facebook, twitter, path, bbm, brosur, mlm (mulut ke mulut/ gethok tular) .

3.      Kegiatan Tahap III : Produksi Skala Kecil
Mengingat produk yang dihasilkan adalah produk industri rumahan, maka dapat disebut industri skala kecil dengan ciri-ciri :
a.          Masih menggunakan padat karya.
b.          Proses produksi masih tradisional.
c.          Bahan baku yang digunakan masih alami.

4.      Kegiatan Tahap IV : Produksi,  Pemasaran dan Evaluasi
Pada tahap ini, menghitung komposisi bahan baku dan bahan penolong sangat penting karena untuk menghasilkan cita rasa yang enak sesuai dengan keinginan pasar. Untuk pemasarannya, ada beberapa cara :
A.   Membuka outlet atau toko yang melayani penjualan secara langsung.
.   Konsinyasi, atau bekerja sama dengan mitra kerja, warung, kantin, toko roti, angkringan untuk  memasarkan produk Ketela campur Susu dan Keju.
C.   Penjualan keliling langsung ke kantor-kantor, perumahan, sekolah-sekolah, dan tempat-tempat umum.
D.   Delivery Order untuk daerah Semarang, dengan pembelian dalam jumlah tertentu.
E.  Evaluasi juga dilakukan guna membuat perencanaan serta pengembangan usaha dalam jangka waktu panjang.
BAB IV
BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN

No.
Jenis Pengeluaran
Biaya (RP)
1.
Peralatan Penunjang
1.185.000
2.
Biaya Habis Pakai
5.891.000
3.
Perjalanan
  585.000
4.
Lain-lain
1.045.000

Jumlah
8.706.000
4.1 Anggaran Biaya

4.2 Jadwal Kegiatan
No.
Jenis Kegiatan
Bulan
1
2
3
4
5
1.
Penyediaan tempat, alat dan bahan baku




2.
Produksi Skala Kecil



3.
Pengurusan sertifikat usaha (P-IRT, Halal, Gizi)


4.
Perluasan Pemasaran


5.
Analisis Usaha


6.
Perluasan networking


7.
Penyusunan laporan





 DAFTAR PUSTAKA

HA, Idrus. 1992. TREND MASAKAN KHAS SAYUR-SAYURAN & BUAH-BUAHAN. Solo: CV Aneka.
Hakimah, Indry Ainun. 2013. 150 Makanan & Minuman Anti-Sakit Berkhasiyat Obat. Yogyakarta: Syura Media Utama. 

LAMPIRAN
. Justifikasi Penggunaan Anggaran
1. Peralatan Penunjang
Material
Justifikasi pemakaian dan keterangan
Kuantitas
Harga satuan (Rp)
Jumlah harga (Rp)
Kompor Gas
Rinnai Kompor Gas 2 tungku tipe RI-602A.
1 buah
400.000
400.000
Regulator
Quantum Regulator dan selang tipe QRL-032
1 buah
110.000
110.000
Tabung Gas
Tabung gas LPG kapasitas 3 kg,. Pembelian 2 buah guna mengantisipasi saat gas habis.
2 buah
100.000
200.000
Parutan tradisional
Untuk memarut ketela
1 buah
25.000
25.000
Pisau
Pisau ukuran medium untuk memotong strawberry dan brokoli.
1 buah
18.000
18.000
Baskom
Baskom stainless diameter 36 untuk tempat adonan.
2 buah
65.000
130.000
Panci
Panci stainless ukuran medium untuk memasak adonan.
1 buah
275.000
275.000
Parutan Keju
Untuk memarut keju.
1 buah
27.000
27.000
SUB TOTAL (RP)
1.185.000

2. Biaya Habis Pakai
Material
Justifikasi pemakaian dan keterangan
Kuantitas
Harga satuan (Rp)
Jumlah harga (Rp)
Ketela
Material ini sebagai bahan dasar dalam pembuatan telpursuju.
300 kg
5.000
1.500.000
Keju
Material ini sebagai bahan pendukung dalam pembuatan telpursuju yang berfungsi sebagai toping.
300 pcs
8.000
2.400.000
Gula Jawa
Material ini berfungsi sebagai pemanis dalam produk agar terasa lebih nikmat
5 kg
11.000
55.000
Susu Kental Manis Full Cream
Susu yang digunakan bermerk Frissian Flag yang sudah terjamin mutu dan kualitasnya.
50 kaleng
8.500
425.000
Isi Ulang Elpiji
Isi Ulang tabung Elpiji dilakukan setiap 2 minggu sekali.
20
20.000
400.000
Staples
Untuk merekatkan kemasan.
2 buah
8.000
16.000
Isi staples
isi ulang staples
20 pcs
6.000
120.000
Mika
Sebagai kemasan produk telpursuju dengan target penjualan 500 pcs mika.
500 buah
150
75.000
Sewa tempat
Untuk tempat proses produksi sekaligus pemasaran.
3 bulan
300.000
900.000
SUB TOTAL (RP)
5.891.000

3. Perjalanan
Material
Justifikasi pemakaian dan keterangan
Kuantitas
Harga satuan (Rp)
Jumlah harga (Rp)
BBM dan biaya makan
Biaya akomodasi peninjauan pasar.
4 liter+ 6 bungkus
BBM : 7.500/liter
Makan : 7.500/bungkus
75.000
BBM (Bahan bakar Minyak)
Survei Pembelian alat dilakukan di Pasar Johar – Hypermart-Tembalang-Ungaran.
8 liter
7.500
60.000
Transportasi dan Distribusi Usaha
Transportasi meliputi biaya angkut pembelian bahan-bahan dari pasar (daerah sekitar Java Mall-Wonodri,Krajan) dan pendistribusian produk dari tempat produksi ke konsumen maupun mitra kerja.
20 liter bensin x 3 bulan = 60 liter bensin
7.500
450.000
SUB TOTAL (RP)
585.000

4. Lain-lain
Material
Justifikasi pemakaian dan keterangan
Kuantitas
Harga satuan (Rp)
Jumlah harga (Rp)
Kertas HVS
Untuk mencetak proposal, revisi-revisi,laporan pertanggung jawaban, serta laporan neraca keuangan usaha.
3 rim
40.000
120.000
Penjilidan dan penyampulan
Penjilidan (dan sampul) yang dilakukan selama program berjalan.
Selama program
75.000
75.000
Tinta Printer
Pembelian 1 pack tinta hitam dan 1 pack tinta berwarna
2 buah
25.000
50.000
Biaya promosi
Biaya promosi yang meliputi pembuatan brosur, banner, pamflet, pembelian kuota guna promosi via internet.
Selama program
700.000
700.000
Pembukuan dan ATK
Pembelian buku keuangan, alat tulis kantor (ATK), nota kontan, kwitansi, materai, perlengkapan kantor Telpursuju
1 paket
100.000
100.000
SUB TOTAL (RP)
1.045.000

SUB TOTAL PERALATAN PENUNJANG (Rp)
1.185.000
SUB TOTAL BIAYA HABIS PAKAI (Rp)
5.891.000
SUB TOTAL PERJALANAN (Rp)
   585.000
SUB TOTAL LAIN-LAIN (Rp)
1.045.000
TOTAL SELURUH BIAYA YANG DIPERLUKAN (Rp)
8.706.000